Kamis, 31 Desember 2009

Menuju Candi Dadi

Rabu, 23 Desember 2009, matahari pagi bersinar cerah. Beberapa anak kelas XII IPA 1 tampak duduk bergerombol, membicarakan rencana kegiatan untuk mengisi liburan semester 1. Singkat cerita, ide lama Alfa untuk pergi ke Candi Dadi menjadi konklusi dari pembicaraan yang berlangsung alot karena bingung menentukan hari. Diputuskan bahwa anak-anak akan pergi ke Candi Dadi pada hari Senin, 28 Desember 2009, berkumpul di masjid warna putih di timur balai Desa Sanggrahan pukul 07.30 WIB. Peserta ekspedisi kali ini adalah Alfa Ridhoana, Aulia Dwi Fitriana, Dzikri Febrian Taufiqi, Erta Novitasari, Fatih Diana, Indatul Fitriyah dan Lailatul Kusnia.
Hari Minggu, aku sibuk mengirim pesan ke teman-teman, menanyakan kesiapan dan kesanggupan untuk perjalanan esok hari. Mayoritas dari mereka positif untuk ikut. Sayang, Indatul ada kursus Fisika, dan Ella sedang dalam masa penyembuhan dari sakit. Terpaksa mereka tidak ikut. Kasihan…. Alfa bingung sendiri karena ragu, jadi ikut atau tidak, sebab tidak ada Inda yang menjadi teman seperjalanannya.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba. Sejak subuh langit mendung. Kadang gerimis kecil menyirami Desa Boyolangu dan sekitarnya. Dalam hati aku berharap, semoga cuaca segera menjadi cerah sehingga rencana kami dapat terlaksana. Sejak pagi aku sudah bersiap-siap, menyapu rumah dan halaman setelah solat subuh, sehingga ada cukup waktu untuk mandi dan sarapan sebelum pukul 06.00. Akhirnya pukul 06.15 aku siap berangkat.
Di tengah jalan, aku bertemu Nene yang berhenti di depan masjid sebelah barat balai desa. Ternyata Nene salah tempat. Setelah ngobrol beberapa menit, kami menuju masjid yang dimaksud. Di Masjid Baitur Rohman ternyata belum ada orang. Kebetulan gerbang masjid tidak terkunci, jadi kami bisa masuk dan duduk-duduk di masjid.
Aku menanyai Alfa lewat sms, “Alfa, awakmu ing ngendi?” Dia bilang “Heh, q sek tekan Tanjungsari.”* Nene sms Mbak Ana, katanya mereka masih di Wajak. Kami terus menunggu, duduk di serambi masjid karena gerimis turun lagi.
Tak lama, Mbak Ana dan Erta datang. Mereka datang bersama dua orang anggota tambahan, Aulia Dwi Fitriani dan Aviv Asmara Khahar dari XII IPA 6. Erta yang awalnya hendak berangkat naik motor terpaksa harus menggoes-goes sepeda onthel dari Simo karena motornya sedang dipakai ortu. Selang beberapa menit, Alfa tiba. Karena gerimis belum berhenti, kami duduk-duduk dulu.
Setelah gerimis reda kami mencari tempat untuk menitipkan sepeda. Tempat yang kami tuju adalah rumah di sebelah timur jalan menuju candi. Aku dan Alfa menuju pintu samping rumah. Kami mengucap salam beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Tetangga sebelah bilang kalau penghuninya masih keluar. Akhirnya kami menitipkan kendaraan di rumah seberang jalan yang dihuni nenek-nenek. Lima sepeda dan satu motor memadati teras rumah nenek itu.
Kami memulai pendakian. Di awal perjalanan, kami meniti jembatan bambu yang membentang di atas sungai kecil yang kering. Hih… pringe enek sing tilak kobong! Mengko yen tugel piye??? Setelah melewati sungai, kami mendaki lereng yang agak terjal. Di kiri-kanan lereng ditanami kacang tanah. Bunga-bunga kuning mekar cantik sekali…. Agak ke atas jalannya berbatu-batu. Aku menyadari sesuatu. Jalan yang kulalui beberapa tahun yang lalu nampak berbeda. Beberapa tahun yang lalu jalan tersebut gersang (karena musim kemarau), namun sekarang tampak hijau karena musim penghujan.
Dengan pede (walaupun sebetulnya tidak tahu jalan mana yang benar), kami melintasi jalan yang berkelok-kelok. Bila berada di persimpangan, kami memilih jalan yang tampak lebih mudah dilalui. Di persimpangan pertama, satu jalan mendaki bukit, jalan lain mengitari bukit. Jalan yang mendaki kondisinya curam, berbatu-batu dan sempit, walaupun di bagian percabangan tampak lebar. Kami memilih jalan yang mendatar, mengitari bukit. Setiap beberapa menit, kami berhenti untuk mengambil nafas.
Tiba-tiba gerimis turun. Kami melindungi kepala dengan barang seadanya. Aku mengambil kantong kresek warna merah yang ada dalam tas untuk menutupi kepala. Mana ujan, ga ada ojek, jalanan becek…. Kami meneruskan perjalanan, dan tiba di daerah yang jalannya landai. Alhamdulillah. Bejane, gremise mandheg.
Tak berapa lama, kami tiba di punggung bukit yang menghubungkan dua puncak bukit. Di sebelah barat jalan adalah lereng terjal. Di sebelah timur ada jurang. Tapi tempat itu tampak indah… (nggak cuma sekali, tapi berkali-kali). Ngarai di bukit sebelah timur jurang tampak cantik. Kami juga bisa memandang ke arah persawahan di kaki bukit. Sayangnya saat itu kabut agak tebal, sehingga pemandangan hanya tampak samar-samar. Di situ kami sempat berfoto-foto. Di daerah itu pula, tumbuh sebatang pohon yang menyendiri di tepi jalan. Sebetulnya jumlah pohonnya nggak cuma satu, hanya saja seperti membuat kelompok sendiri yang terpisah dari vegetasi lain. Di sisi barat, nampak puncak Gunung (baca: Bukit) Budheg yang masih berselimut awan. Di sebelah utara Gunung Budheg, daerah Boyolangu dan sekitarnya yang masih tertutup kabut tampak seperti lautan. Adeudeuh… cantik pisan….
Kembali meneruskan perjalanan. Kami menemukan sungai yang berair jernih. Kami berhenti sebentar di situ, sekedar untuk duduk-duduk dan cuci tangan. Alfa berjalan tanpa melihat apa yang dipijak, sehingga kakinya masuk ke kubangan lumpur. Sandhale Alfa gupak endhut, gek srampate cepot pisan, untunge ra pedhot. Akhirnya kami menunggu Alfa cuci kaki dan cuci sandal. Hi hi hi….
Beberapa menit melanjutkan perjalanan, kami kembali dihadapkan pada jalan yang bercabang. Kedua jalan tampak meyakinkan karena sama-sama lebar. Bedanya, jalan yang satu menuju ke atas, yang satu mengitari bukit. Karena candi yang kami tuju letaknya di puncak bukit kami mencoba jalan pertama. Nyatanya, jalan tersebut curam dan licin, berlumpur karena baru tersiram hujan. Seketika alas kaki kami menjadi kotor, bahkan celana Alfa belepotan tanah. Melihat kondisi jalan yang sulit, kami putus asa ketika menempuh beberapa meter awal. Kami tidak yakin bila jalan tersebut benar-benar menuju candi. Kami berbalik arah dan memilih jalan yang satunya.
Jalan kedua ternyata mudah di awal, sengsara di perjalanan. Beberapa meter dari persimpangan, kami menemui tikungan yang licin, becek, dan banyak semut. Satu per satu dari kami melewati tikungan tersebut. Tiba-tiba ada orang yang berseru. Orang yang tidak nampak itu meneriaki kami, memberitahu kalau kami salah jalan. Kami saling pandang. Kami bimbang, antara mempercayai suara tak dikenal ataukah meneruskan perjalanan, sementara kami tidak mengetahui jalan mana yang benar….
Akhirnya kami berbalik arah. Kami kembali ke jalan pertama yang mendaki, curam, berlumpur dan licin. Kami memilih mendaki di tepi jalan, di bagian yang berumput dan tidak licin meskipun kadang harus membungkuk untuk berpegangan pada rumput liar. Sambil mendaki, Mbak Ani meneriakkan ucapan terima kasih.
Beberapa menit mendaki jalan yang curam, licin, dan becek, kami menemukan jalan yang agak datar. Pada awalnya kami bernapas lega. Namun di balik tikungan, ternyata ada bagian yang becek lagi, licin lagi, cekung ke bawah plus setengah longsor pisan. DEG…. Kondisi jalan jelek, di sebelah kanan tumbuh belukar yang menutupi jurang. Perjalanan kembali merayap pelan. Satu per satu berusaha agar tidak tergelincir saat melewati tikungan. Hampir tidak ada benda yang dapat dijadikan pegangan. Satu batang tanaman kecil yang tumbuh tepat di tikungan memiliki banyak duri. Satu-satunya yang dapat dipegang hanyalah batang petai cina mungil yang nampaknya baru tumbuh. Sambil merayap aku berharap semoga batang petai cina itu tidak patah.
Habis gelap terbitlah terang. Setelah bersusah payah di tikungan cekung, kami kembali menemukan jalan mendatar. Jalan tersebut cukup nyaman, rindang, tanahnya lembab, namun tidak sampai becek. Pemandangan sekitar cukup indah dilihat. Di sebelah barat, di puncak bukit seberang, terlihat beberapa orang berkumpul. Sepertinya orang-orang pecinta alam. Tak jauh dari tempat itu selembar kain biru bak layar dibentangkan vertikal. Logo di kain itu tak terlihat dari tempat kami. Tetapi kami menebak, mungkin mereka anggota Arismaduta (harusnya namanya diganti Arismaboy). Kami bersorak-sorak tak jelas, dengan tujuan yang tak jelas pula.
Tak lama, kami sampai di sebuah tikungan. Tepat di sebelah tikungan itu ada sepetak lahan berumput yang teduh. Di daerah situ terdengar kicauan burung bersahut-sahutan. Kami berhenti sebentar untuk istirahat, membuka bekal. Mbak Ana membawa kerupuk yang enak (aku lali jenenge, pokoke bakale saka tela, kaya entho-entho tapi gepeng, digoreng garing). Alfa membagikan getuk pisang. Maksud hati memeluk gunung, apadaya tangan tak sampai. Maksud Alfa membuang daun pisang ke lereng, apadaya malah mengenai Erta. Kami semua tertawa. Sambil duduk-duduk, kami mengamati pecinta ala nun jauh di sana. Salah seorang lelaki dari mereka memberi komando, “Berdiri! Berdiri!” Erta otomatis menjawab, “Aja, duduk ae, duduk.” Hahaha…. Kami tertawa lagi. Cuaca benar-benar telah menjadi cerah. Puncak Gunung Budheg dapat terlihat jelas dari tempat kami beristirahat.
Puas beristirahat, kami mendaki jalan berbatu menuju candi. Kami masih sempat mendengar ada seruan dari kejauhan, “Halo geng….” Yang langsung dijawab (dari kejauhan pula), “Arismaduta!” Rupanya memang benar mereka.
Sambil mendaki, Erta berkelakar jika ia kelak menjadi presiden ia akan membangun eskalator menuju Candi Dadi supaya tidak perlu bersusah-payah mendaki. Aku berjalan paling depan, setengah berlari, mencoba melihat apakah yang berada di puncak bukit memang Candi Dadi yang kami tuju. Beberapa meter dari puncak, aku melihat bangunan kuno berbentuk kotak. Alhamdulillah. Ternyata kami tidak salah jalan. Aku berseru kepada Alfa bahwa jalannya memang benar. Aku berhenti, menunggu yang lain tiba. Alfa dan Nene berjalan lebih dulu. Aku menyusul di belakang mereka.
Kondisi lingkungan sekitar candi nampak berbeda dari yang pernah kulihat. Beberapa tahun yang lalu sekitar candi kondisinya gersang, panas, sejauh mata memandang hanya nampak gradasi coklat. Dulu memang, aku ke tempat itu saat musim kemarau. Saat musim penghujan seperti sekarang, wow…. Adem….
Di halaman candi kami kembali membuka bekal. Sambil makan-makan kami melihat perkampungan dan hamparan sawah yang membentang nun jauh di bawah. Cantik pisan…. Dari puncak bukit, kami bisa memandang ke segala penjuru. Sawah menghijau terkotak-kotak rapi. Liukan sungai yang menyambung ke Kali Boyolangu tampak berkilau diterpa cahaya matahari. Samar-samar kami mendengar deru kendaraan bermotor yang melintasi perkampungan. Saat itu cuaca benar-benar cerah. Langit sebiru batu safir. Matahari bersinar terang. Kerisauan hati akan cuaca mendung hilang sudah. Di kejauhan Gunung Wilis masih saja tertutup awan.
Karena hari beranjak siang kami memutuskan untuk turun. Kami melewati jalan yang sama dengan yang yang lewati saat berangkat. Tiba di persimpangan Erta dan Nene mengocehkan keadaan Candi Dadi, agar Candi Dadi ramai dikunjungi orang sebaiknya di sekitarnya dibangun villa. Maksudnya???
Di tikungan itu pula kami menyempatkan diri untuk berhenti sebentar. Kami berteriak-teriak untuk mengucapkan salam perpisahan dengan Arismaduta, entah mereka mendengarkan kami atau tidak.
Jalan pulang terasa lebih ringan. Selain tidak perlu bersusah-payah membungkuk-bungkuk, lumpur di jalan mulai mengering. Jalanan tidak sebecek waktu pagi. Meski demikian, tanah tetap menempel dan mengotori alas kaki kami. Karenanya kami menyempatkan diri mampir ke kali. Di kali kami berhenti agak lama untuk membersihkan alas kaki, cuci tangan, cuci kaki, dan menunggu alas kaki kering.
Tiba di punggung antara dua bukit kami berfoto lagi. Nene melakukan pose ekstrim dengan memanjat pohon, padahal di belakangnya ada jurang yang menganga. Akibatnya, Erta harus membantu Nene turun dari pohon.
Perjalanan menuruni bukit tidak mengalami masalah. Kami selamat hingga di tempat penitipan sepeda. Kami mengambil kendaraan masing-masing, tak lupa membayar dan mengucapkan terima kasih pada tuan rumah. Selanjutnya kami pergi pulang ke rumah masing-masing, kecuali aku yang harus mengembalikan buku ke perpusda terlebih dahulu. Pada akhirnya semua berjalan dengan cara yang menyenangkan.

* Belakangan ketahuan bahwa Alfa saat itu masih ada di rumah, hendak berangkat, sama sekali belum memasuki wilayah Tanjungsari.

Op. 4






Minggu, 27 Desember 2009

Op. 3

The Gallery are 16 Double Diapason, 8 Diapason and 8 Prestant






Jumat, 27 November 2009

Op. 2


The Facade - The central chamber is Schwellwerk. It is surrounded by Hauptwerk. The outer sides are Pedal.

 
Left side of Hauptwerk and Pedal. The facade's pipes are 8 Octav (Ped), 8 Prinzipal (HW) and 8 Trompette (HW).

 
Right side of Hauptwerk and Pedal.



Front view of Schwellwerk. The facade is 4 Prestant (SW, unenclosed). The horizontal pipes under SW chamber are parts of 8 Trompette (HW).

 
Perspective view of SW chamber (rendered).

 
 Perspective view of SW chamber (unrendered).



Front view - click to enlarge.

Kamis, 19 November 2009

The Glass Organ - Op. 1

Gambar di bawah ini dibuat dengan menggunakan AutoCAD.
Untuk memperbesar, silakan klik pada gambar.


Selasa, 17 November 2009

Resensi Buku

Tulisan di bawah ini sebetulnya adalah tugas Bahasa Indonesia dari Bu Sutiyah. Karena bukan meresensi 'beneran', sebagai latihan kami diperbolehkan menggunakan buku lama untuk diresensi. Selamat menikmati....


Tragedi di Tengah Liburan

Judul buku : Misteri Karibia
Judul asli : A Caribbean Mystery
Pengarang : Agatha Christie
Penerjemah : Sudarto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : IV, September 2002
Tebal : vi + 285
ISBN : 979–403–068-6



Agatha Christie dikenal di seluruh dunia sebagai ratu kejahatan. Novel detektifnya yang berjumlah tujuh puluh enam buah dan buku-buku ceritanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia.

Dia mulai menulis sesudah berakhirnya perang dunia pertama. Tokoh pertama ciptaannya adalah Hercule Poirot, seorang detektif Belgia bertubuh kecil dengan wajah bulat telur dan menyukai hal-hal yang teratur. Selain itu, ia juga membuat serial detektif yang mengisahkan kehidupan Miss Marple, seorang perempuan tua yang menjadi detektif tak resmi. Buku terakhir karyanya adalah serial Poirot yang berjudul Curtain: Poirot’s Last Case. Buku tersebut ditulisnya pada tahun 1975, sebelum ia meninggal pada tahun 1976.

Misteri Karibia ini merupakan salah satu novel detektif karya Agatha Christie yang mengisahkan kehidupan Miss Marple yang sudah tua. Walaupun tua, ia dikisahkan memiliki perhatian yang baik terhadap suatu kejadian. Ia pun memiliki daya pikir yang tajam. Hanya saja, seperti kebanyakan lansia, ia terkadang juga melupakan sesuatu.

Novel ini menceritakan pengalaman liburan Miss Marple selama masa penyembuhan penyakit rematiknya yang sering kambuh karena terlalu banyak kegiatan. Keponakannya menyarankan untuk berlibur ke sebuah pulau di Karibia, Trinidad. Di sana, Miss Marple menginap di Hotel Golden Palm, St. Honore, yang dikelola oleh pasangan Tim dan Molly Kendal serta pelayan mereka, Victoria Johnson.

Pada suatu hari, Miss Marple mendengarkan penuturan Mayor Palgrave, penghuni hotel lainnya, mengenai masa lalunya sebagai tentara. Mayor Palgrave juga menceritakan kisah pembunuhan istri oleh suami, dan menawarkan kepada Miss Marple untuk melihat foto yang dicurigainya sebagai pembunuh. Namun sayang, hal itu dibatalkannya tatkala melihat seseorang yang datang ke arahnya, tepat di belakang Miss Marple. Miss Marple merasa curiga, membalikkan tubuhnya, namun ia melihat ada beberapa orang yang berseliweran di sana, dan ia tak bisa menebak siapa penyebabnya.

Kecurigaan Miss Marple bertambah ketika keesokan harinya, secara tak terduga Mayor Palgrave ditemukan dalam keadaan meninggal. Berdasarkan desas-desus, dikabarkan Mayor meninggal akibat tekanan darah tinggi. Miss Marple mencoba mencari foto pembunuh yang diceritakan Mayor, namun ia tidak menemukannya. Berdasarkan keterangan yang diperolehnya dari bertanya sana-sini, ia mengetahui bahwa Victoria sempat memergoki seseorang pada malam menjelang kematian Mayor. Namun, sebelum ia sempat berbincang-bincang dengan Victoria, pelayan hotel tersebut tewas tertusuk pisau. Mayatnya ditemukan Molly, yang sebetulnya jiwanya sedang goyah, di semak-semak. Kematian pelayan setianya membuatnya shock setengah mati hingga ia tampak linglung. Yang membingungkan, koki hotel bersaksi bahwa sebelumnya Molly sempat keluar hotel dengan membawa pisau.

Miss Marple mencoba mencari keterangan mengenai Molly dari Tuan Rafiel, jutawan yang setiap tahun berlibur dan menginap di Hotel Golden Palm. Ia dan Tuan Rafiel sempat beradu argumentasi, namun pada akhirnya ia menemui jalan buntu kembali.

Miss Marple kemudian menjenguk Molly, yang oleh dokter dianjurkan untuk beristirahat. Miss Marple mengajak Molly untuk berbicara, dan Molly mengungkapkan beberapa hal mengenai dirinya. Molly bercerita, ia sering bermimpi buruk kala tidur, seperti ada orang yang selalu mengejarnya. Karena itu, tiap malam ia sering terbangun dan lebih memilih jalan-jalan daripada tidur. Ia juga bercerita bahwa sering tak sadarkan diri, dan lupa mengenai apa yang baru saja dilakukannya.

Miss Marple melanjutkan penyelidikannya. Ia bertanya pada Joan Prescott, penduduk asli St. Honore, juga kepada Evelyn dan Lucky, ilmuan yang telah berada di St. Honore selama empat tahun untuk meneliti tumbuhan. Ia mendapatkan beberapa keterangan baru. Diantaranya mengenai keluarga Kendal, bahwa keluarga tersebut baru setahun mengambil alih pengelolaan hotel dari pemilik lama yang sudah tua. Tim dan Molly mencurahkan segala yang mereka punya untuk mengembangkan bisnis mereka. Namun di balik itu, sebelum menikah dengan Tim, Molly sempat berhubungan dengan seorang lelaki berandalan. Informasi tersebut bukannya membuat permasalahan semakin jelas, malah semakin membingungkan Miss Marple.

Tengah malam, Miss Marple terbangun dan berjalan-jalan keluar hotel. Ia melihat kerumunan orang di muara sungai. Rupanya di sana ada seorang wanita yang diduga bunuh diri. Miss Marple terkejut ketika mengetahui bahwa wanita tersebut adalah Molly. Beberapa orang pergi untuk memberi tahu polisi. Miss Marple mengamati mayat Molly lebih teliti. Ia mendapati bahwa mayat tersebut bukan mayat Molly, melainkan Lucky yang mirip dengan Molly.

Miss Marple memutar otak, menggabungkan informasi yang telah ia peroleh. Ia tersadar, Lucky tidak bunuh diri, melainkan terbunuh secara tak sengaja. Sekarang ia tahu siapa pelaku pembunuhan beruntun yang membayangi kehidupan St. Honore selama ini. Dan ia juga tersadar bahwa Molly yang asli sedang berada dalam keadaan bahaya. Ia meminta bantuan Tuan Rafiel, dan walaupun dengan susah payah, si pembunuh akhirnya tertangkap.

Kisah yang diuraikan dalam alur maju dengan beberapa kali flashback ini cukup mengasyikkan untuk dibaca. Di dalamnya, banyak hal-hal tak terduga yang terjadi, antara lain mengenai karakter tokoh yang sulit ditebak, dan juga pelaku pembunuhan yang misterius. Setiap babak selalu memunculkan hal-hal yang baru, sehingga dapat membangun suasana yang berbeda-beda.

Cerita ini menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca. Istilah-istilah khusus hanya dipakai sesekali dalam cerita. Hanya saja, kadang tokoh cerita menyampaikan sesuatu dengan kalimat yang panjang, seperti pada dialog antara Miss Marple dan Tuan Rafiel, sehingga membosankan pembaca.

Pembaca juga diajak berpikir dengan membaca cerita ini. Dimana terjadi pembunuhan pada orang yang dikenal oleh tokoh utama. Lewat pembicaraan antar tokoh dan monolog yang disampaikan Miss Marple, pembaca dipaksa secara halus untuk berpikir dan memecahkan teka-teki siapa pelaku pembunuhan di St. Honore.

Keseluruhan cerita diuraikan begitu mendetail. Pembicaraan-pembicaraan antar tokoh diuraikan dengan begitu gamblang, bahkan basa-basi panjang yang tidak begitu penting pun turut disertakan. Hal ini tentunya sedikit banyak dapat mempengaruhi jalan cerita karena dapat membingungkan dan mengganggu konsentrasi pembaca.

Selain itu, pada permulaan cerita, begitu banyak tokoh yang dimunculkan. Hal ini menyulitkan pembaca untuk memahami cerita, karena setiap tokoh yang dimunculkan tidak langsung menunjukkan posisi dan perannya dalam cerita. Ada tokoh yang sangat menarik perhatian, seperti Mayor Palgrave, namun jalan ceritanya terputus karena diceritakan meninggal dunia. Ada tokoh yang jarang tampak, kadang muncul kadang tenggelam, namun memiliki peran penting seperti Molly Kendal. Namun demikian, hal-hal tersebut juga membawa manfaat. Cerita menjadi semakin misterius dan sulit untuk ditebak.

Novel ini amat cocok untuk dibaca oleh orang yang suka berpikir aktif dan menyenangi hal-hal yang misterius. Sebaliknya, sangat tidak cocok bagi penggemar cerita-cerita ringan untuk membaca novel ini. Sebab novel ini banyak menuntut pembaca untuk memutar otak mengenai peran tokoh cerita di awal kemunculan, maupun di akhir cerita. Selain itu, tokoh yang cukup banyak menuntut pembaca untuk memiliki ingatan yang baik. Karena bila tidak, kita harus membolak-balik halaman demi halaman untuk mencari tahu apa yang telah dikerjakan oleh seorang tokoh sebelum terjadinya suatu tragedi. Apapun kekurangannya, novel ini mampu melatih pikiran pembaca untuk menjadi aktif dan kritis, serta serta teliti dalam menganalisis suatu informasi.